Yogyakarta, Ruang Kerja dan Gotong Royong

Placeholder

CoHive

Features

Jan 14

DSC03416-768x513.jpg

Seni budaya, keramahtamahan dan tradisi guyub bersatu dalam kehidupan masyarakat kota Yogyakarta. Ciri khas tersebut menjadi magnet untuk wisatawan atau siapapun yang berkunjung untuk kembali datang. Yogyakarta juga menjadi rumah yang nyaman bagi perantauan. Keindahan alam yang memikat, ramainya pertunjukan seni, kuliner yang murah menjadikan Yogyakarta memang ‘Istimewa’.


Kondisi geografis berada tepat di tengah-tengah Pulau Jawa menjadikan Yogyakarta mudah dijangkau. Yogyakarta adalah tempat belajar. Julukan Kota Pelajar memang sangat pantas disematkan. Banyak universitas berkualitas menjadi pilihan. Pergaulan di Kota Gudeg juga bertujuan untuk belajar. Berkumpul, berdiskusi, berkolaborasi menjadi keseharian.


Angki Purbandono. Foto: Tampan Destawan Subagyo

Angki Purbandono, seniman yang menetap di Yogyakarta bercerita masyarakat Yogyakarta sangat terbuka dan majemuk. Dalam artian setiap latar belakang dapat bersatu tanpa membeda-bedakan. Duduk bersama lalu menghasilkan karya.


Seniman yang dikenal berkarya dengan mesin scan ini bercerita tentang semangat anak muda Yogyakarta dalam berkolaborasi untuk berkarya. Saling bantu menjadi utama. Sudah menjadi tradisi. Bahkan, saling bantu sering terjadi secara spontan.


“Kita ngobrol-ngobrol secara singkat dan menemukan medium yang sama itu langsung ada menemukan hal yang baru dan terjadi di hampir semua komunitas di Yogya,” cerita Angki.


Mudahnya menjalin kolaborasi dianggap pula oleh Angki karena geografis kota Yogyakarta. Wilayah tak terlalu besar membuat masyarakatnya mudah untuk saling terhubung. “Geografisnya juga mendukung untuk cepat bergerak dan cepat dalam berhubungan,” katanya.


Guyub atau kolaborasi di Yogyakarta bukan karena ada maunya. Tetapi sudah menjadi budaya dan kekuatan di Yogyakarta. ”Kerja sama itu sudah menjadi budaya di Yogyakarta,” kata Angki.


Bagi Angki, Yogyakarta bukan hanya kota. Bukan hanya tempat tinggal. Namun, Yogyakarta merupakan sebuah ruang kerja yang dilengkapi dengan sejumlah fasilitas yang membuatnya dengan tegas sepakat Yogyakarta memang istimewa.


“Yogya itu ruang kerja. Dalam wawasan konsep intelektual kita jadi semangat kerjanya. Karena ruang kerja kamu didukung fasilitas-fasilitas yang kamu inginkan. Fasilitas batin,  fasilitas kepekaan, itu jadi kuat,” kata Angki.


 


Komunitas yang hidup


Atmaji Sapto Anggoro mendirikan Padepokan ASA di Wedormatini, Yogyakarta pada tahun 2015. Padepokan ini didirikan sebagai incubator dan jembatan bagi organisasi dan komunitas agar dapat lebih dekat dengan masyarakat. Didirikan di pedalaman Yogyakarta dengan suasana sejuk di kaki Gunung Merapi.


Sapto Anggoro. Foto: Okinawan

Sapto bukan orang asli Yogyakarta. Dia lama pula tinggal di Jakarta. Ada alasan khusus memilih Yogyakarta untuk membangun Padepokan yang diidamkannya itu. Salah satunya komunitas di Yogyakarta yang sangat hidup.


Baru berusia tiga tahun, Padepokan ASA dengan cepat menjadi tempat yang mewadahi komunitas di Yogyakarta yang diisi oleh orang-orang haus akan ilmu. Setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Padepokan ASA selalu ‘hidup’.


“Karena saya melihat di Yogya itu banyak komunitas-komunitas yang ‘hidup’. Ada ribuan komunitas dari riset telah dilakukan oleh tim (Padepokan ASA) ada ribuan. Komunitas yang aktif di sini ada 120-140 yang terdaftar sebagai anggota aktif. Dengan alasan itulah kami membangun Padepokan di Yogya,” cerita Sapto.


Anak-anak Yogyakarta gemar belajar. Mereka datang, berdiskusi, menyerap ilmu. Mereka bukan mencari ramainya suatu acara. Tetapi melihat konten yang bisa diserap untuk diri sendiri atau dibagi ke orang lain. Padepokan ASA mengakui karakter masyarakat Yogyakarta yang gemar belajar. Tak salah dijuluki sebagai kota pendidikan. Suasana yang mendukung untuk belajar bersatu dengan karakter masyarakat yang haus akan ilmu menjadi spirit terbesar Padepokan ASA untuk tetap ada.


“Anak-anak ini haus ilmu, mau datang diskusi, tukar pikiran, tukar ilmu dan mereka kalau ada acara-acara itu selalu datang mendapatkan konten-konten itu, dan konten yang mereka harapkan bukan ramainya tapi karena ‘isi’,” kata Sapto.


Padepokan ASA didatangi tak hanya orang Yogyakarta. Namun, didatangi pula oleh anak-anak yang haus akan ilmu dari sejumlah daerah. Lokasi di kaki gunung, dekat dengan sawah, suasana yang sejuk. Siapa yang tak mau belajar di sana?


Padepokan ASA bagai rumah kedua bagi sejumlah komunitas di Yogyakarta. Sapto mengatakan komunitas merupakan tulang punggung bagi Padepokan ASA. “Adanya Padepokan ASA ya karena adanya komunitas,” katanya.


 


Iklim Kolaborasi


Berbicara tentang Yogyakarta tak lengkap rasanya tanpa membicarakan Dagadu Djokdja. Produk cinderamata yang telah menjadi ikon kota Yogyakarta. Dagadu Djokdja yang telah berdiri sejak tahun 1994 sudah menjadi ikon pariwisata Yogyakarta setelah Gudeg, batik, perak dan bakpia.


Sejak berdiri, Dagadu Djokdja memposisikan diri sebagai produk cinderamata alternatif dengan mengusung tema ‘Everything about Djokdja’. Artefaknya, bahasanya, kultur kehidupannya, maupun remeh-temeh keseharian di Yogyakarta ada di Dagadu.


Ahmad Noor Arif

Membahas kota Yogyakarta tentu tak salah apabila berbincang dengan pendiri Dagadu Djokdja, Ahmad Noor Arif. Pria berambut panjang ini paham betul tentang selak beluk kota Yogyakarta. Maklum, Arif orang asli Yogyakarta dan paham betul bagaimana membangun bisnis di Yogyakarta.


Dagadu berawal dari kolaborasi antara Arif dan beberapa teman semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Duduk bersama, menyatukan visi, membangun bersama hingga berkembang dan besar hampir 25 tahun.


Arif dan beberapa temannya sepakat Yogyakarta memang menarik untuk menjadi tema besar Dagadu. Meski, tak semua temannya orang asli Yogyakarta. Namun, semua dapat berirama, berkolaborasi mengejar asa.


“Yogya itu menjadi titik bertemunya banyak sekali budaya dari Indonesia yang masing-masing karakternya berbeda, tetapi bisa berbaur dengan sangat apik,” kata Arif.


Yogyakarta penuh inspirasi. Sejarah, seni budaya, kehidupan sehari-hari menjadi sumber inspirasi bagi Dagadu untuk bertahan hampir 25 tahun.


“Yogyakarta sumber inspirasi yang tidak pernah kering di berbagai musim. Itu yang saya kira membuat salah satunya Dagadu bisa bertahan 25 tahun.”


Pertemanan di Yogyakarta juga istimewa. Arif bercerita antar teman saling bantu. Saling bantu memecahkan masalah membuat Arif mengakui kultur gotong royong di Yogyakarta sangat berperan bagi dirinya dan Dagadu.


“Sangat terasa adalah iklim kolaborasi daripada kompetisi, karena kompetisi hanya satu yang menang dan selebihnya kalah dan yang saya rasakan dengan guyub, gotong royong yang bahasa sekarang adalah kolaborasi sebetulnya yang menang ada banyak pihak. Berkarya bersama-sama menghasilkan sebuah karya secara bareng-bareng, itu yang saya rasakan di Yogya,” kata Arif.


Angki, Sapto dan Arif bercerita tentang indahnya budaya guyub di Yogyakarta. Guyub yang dapat diartikan sama dengan kolaborasi telah menjadi budaya di Yogyakarta. Seperti Angki bilang, Yogyakarta seperti ruang kerja yang dipenuhi dengan fasilitas tak kasat mata. Fasilitas penunjang pemberi kenyamanan bagi siapapun yang tinggal.


Yogyakarta mengajarkan tentang pentingnya kolaborasi ketimbang kompetisi. Berbicara kompetisi tentu ada pihak yang kalah dan yang menang. Berbeda dengan kolaborasi, tak ada yang kalah. Semua yang terlibat menjadi pemenang tanpa ada yang kecewa karena mengalami kekalahan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.


Tags