Yang Kesepian Di Ruang Kerja | CoHive Blogs

Yang Kesepian Di Ruang Kerja

Subagio Sastrowardoyo pernah menulis. “Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati.” Puisi itu tentang perjuangan tentu saja, tidak sedang membahas tentang hubungan seseorang yang kesepian apalagi perkara sepele seperti asmara. Tapi jika boleh dan tentu saja jika diijinkan, baris puisi itu seperti demikian tepat menggambarkan manusia-manusia urban yang kesepian.

Di Jakarta menjadi kesepian adalah nasib yang apa boleh buat. Tentu tidak semua orang kesepian. Kesepian itu perkara perasaan. Anda bisa berada bersama ratusan orang dalam gedung kantor tapi merasa sendiri, sementara berdua saja bersama seorang musuh kerap kali terlalu sesak dan ramai.

Bekerja dalam kepala banyak orang masih dimaknai sebagai pergi ke kantor pukul 8 pagi sampai jam lima sore. Gedung-gedung perkantoran menjadi ukuran seseorang sukses. Semakin mentereng, semakin pusat, semakin tinggi, semakin susah diakses maka ia semakin sukses. Tentu ini generalisasi, tidak ada data pendukung pula, semacam stereotip yang kerap kali dibenarkan tanpa bisa dibuktikan.

Jakarta, seperti banyak kota di dunia merupakan cahaya yang menarik ngengat. Kota ini menyediakan pekerjaan, menyediakan kenikmatan, hiburan dan segala yang menyertainya. Manusia berbondong-bondong ditempeleng cahaya kota yang gemerlapan, bekerja untuk memenuhi keinginan dan melupakan kebutuhan sendiri.

Tidak semua orang yang bekerja di Jakarta adalah orang Jakarta. Kota-kota satelit dan penyangga menjadi rumah, sementara Jakarta lebih jadi tempat singgah. Mereka yang mesti bangun jam lima pagi agar bisa kerja tepat jam delapan hingga lima sore. Ritus yang berulang dan repetitif.

Harvard Business Review menuliskan artikel tentang orang-orang yang merasa kesepian saat bekerja. Dengan fenomena remote working, orang-orang dimanjakan dengan kemudahan bekerja dari manapun. Anda bisa bangun siang pukul 8 pagi, sembari menggunakan celana kolor dan muka berantakan sehabis bangun tidur untuk kemudian bekerja.

Teknologi berkembang. Orang-orang tak lagi perlu hadir di kantor untuk bisa bekerja. Mereka bisa bekerja dari atas ranjang, dari meja dapur, hingga pekarangan. Internet, video call, dan email membuat segala pertemuan, rapat, dan perencanaan kerja bisa dilakukan dari mana saja. Intinya mempermudah manusia untuk tak harus hadir di kantor.

Semua ini semestinya membuat manusia bahagia, tapi ternyata tidak. Manusia-manusia makin kesepian. George Monbiot menulis bahwa kita hidup di zaman kesunyian. Manusia makin kesepian dengan adanya teknologi, manusia yang semula berkomunikasi guyub dengan bertemu, cukup hadir dengan menggunakan gajet, interaksi fisik berkurang, dan pada akhirnya kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi.

Orang-orang yang awalnya menghindari kantor untuk alasan efisiensi lantas berusaha mencari teman. Mereka ingin bekerja tak jauh dari rumah, tapi tidak ingin sendiri. Jalan tengah yang ada adalah ruang-ruang kerja alternatif seperti coworking space.

Solusi ini nyatanya membantu banyak orang, setidaknya di Amerika Serikat ruang kerja bersama membantu orang untuk bekerja tidak jauh dari tempat tinggal, tanpa harus merasa kesepian.

Dari riset yang disebutkan Harvard Bussiness Review diketahui bahwa 87% responden menyebut mereka bekerja di ruang kerja bersama karena alasan sosial, ini jadi penting untuk membangun jaringan kerja. 83% responden menyebut mereka jadi tidak kesepian sejak bekerja di coworking space dan jadi jauh lebih bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *