Tips Manajemen Keuangan di Masa Pandemi | CoHive

Tips Manajemen Keuangan di Masa Pandemi

Mengatur keuangan di masa pandemi merupakan suatu tantangan besar bagi seorang individu. Oleh sebab itu, CoHive mengundang Dima Djani, selaku CEO dan Co-Founder ALAMI Sharia untuk membahas lebih lanjut langkah-langkah tepat untuk mengatur keuangan di tengah wabah Covid-19.

Tidak dapat dipungkiri bahwa wabah Covid-19 sangat mempengaruhi manejemen keuangan banyak orang. Dengan adanya gaya hidup yang baru dan rutinitas bekerja yang berbeda, kondisi saat ini memaksa semua orang untuk mencari tips manajemen keuangan  untuk dapat tetap bertahan di tengah pandemi.

Membahas mengenai tips manajemen keuangan di masa pandemi merupakan suatu tantangan besar bagi seorang individu. Oleh sebab itu, CoHive menggelar webinar CoLearn Online dengan judul Balancing Worship & Finance Management during Ramadhan (Menyeimbangkan Ibadah & Manajemen Keuangan Selama Ramadhan), sebuah diskusi dengan Dima Djani, selaku CEO dan Co-Founder ALAMI Sharia, perusahaan fintech syariah yang bergerak di bidang P2P. Dialog ini dimoderatori oleh Indah Rahdiani (Senior Event Management Associate CoHive). Terdapat beberapa poin menarik yang bisa dipelajari dari webinar tentang manajemen keuangan ini.

  1. Memahami dasar pengelolaan keuangan

Dalam mengatur keuangan, terdapat dua hal yang perlu dipahami, yaitu income (pemasukan) dan expense (pengeluaran). Dengan adanya wabah Covid-19, pendapatan dari berbagai sektor pekerjaan dapat dipastikan akan menurun, baik itu pendapatan aktif maupun pendapatan pasif. Pendapatan aktif itu dikategorikan sebagai, gaji dan deviden untuk pelaku bisnis. Sedangkan, pendapatan pasif terbagi menjadi saham, obligasi, dan P2P (peer-to-peer).  Menurunnya pendapatan berakibat pada berkurangnya daya beli, hal tersebut disebabkan masyarakat yang cenderung fokus pada kebutuhan primer.

Kategori pengeluaran itu sendiri dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu necessities (kebutuhan inti), wants (keinginan), dan saving (tabungan). Berada di tengah kondisi krisis, banyak orang menghapus keinginan dari pengeluaran mereka, namun Dima menekankan bahwa dalam situasi krisis seperti saat ini, memenuhi keinginan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental seseorang. Oleh karena itu Dima menyarankan adanya pembagian presentase untuk pengeluaran ditengah pandemi yaitu, necessities (65%), wants (5%), dan saving (30%). Persentase tersebut tentu bisa berubah, sesuai dengan kondisi ekonomi masing-masing.

Baca juga: Penanganan Dampak Ekonomi Covid-19 Jakarta Lewat Kolaborasi Sosial Berskala Besar

  1. Mengalokasikan pendapatan untuk kepentingan pribadi

Lebih lanjut Dima menjelaskan agar para peserta dapat mengalokasikan uang yang dimiliki ke dalam dua kelompok, yaitu pribadi dan umum. Berinvestasi untuk pribadi memiliki nilai ROI (return on investment) yang sangat besar, karena dapat memberikan bekal ilmu dan keahlian yang dibutuhkan di masa depan. Investasi pribadi dapat dilakukan melalui beberapa cara, salah satunya dengan membuat office space di rumah. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas seseorang saat bekerja dari rumah. Selain itu dapat pula digunakan untuk mengikuti kursus online, pembalian aset saham, dan melakukan pendanaan melalui P2P lending (peer-to-peer). Dima menjadikan ALAMI Sharia sebagai salah satu contoh P2P platform untuk melakukan pendanaan dengan sistem yang aman, sesuai syariat Islam, dan transparan.

  1. Alokasi untuk kepentingan umum

Sedangkan untuk kepentingan umum, alokasi dana dapat dilakukan dengan membuka usaha baru dan melakukan donasi. Dima menjelaskan bahwa banyak perbedaan pendapat mengenai pentingnya donasi. Akan tetapi, Dima percaya bahwa donasi memiliki keuntungan yang sangat tinggi karena dengan berdonasi dapat memberikan manfaat kepada banyak orang yang membutuhkan.

Hingga saat ini belum ada yang tahu kapan krisis dan pandemi ini akan berakhir. Oleh sebab itu, sangat disarankan untuk mempriotaskan pengaturan keuangan dan sistem alokasi dana yang baik. Mengutip dari Surat Al-Baqarah ayat 268, Dima menekankan bahwa setiap orang sudah dijamin atas rezeki nya masing-masing, sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan akan hal tersebut. Meskipun begitu, rezeki tidak dapat dimiliki hanya dengan berserah diri saja, namun perlu dilakukan dengan bekerja keras dan penuh ketekunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *