Tingkatkan Produktivitas: Jaga Kesehatan Mental | CoHive Blogs

Tingkatkan Produktivitas: Jaga Kesehatan Mental

Pikiran dan kebiasaan tanpa disadari dapat memengaruhi suasana hati dan mengganggu kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental sama seperti gangguan kesehatan fisik. Dampaknya sama-sama bisa menghambat aktivitas. Namun, berbeda dengan kesehatan fisik, kesehatan mental sering tidak diperhatikan.

Kesehatan mental sangat rentan menyerang pekerja, khususnya yang bergerak di industri kreatif. Penyebabnya akibat pola relasi kerja, kultur kerja, dan bisa juga disebabkan manajerial perusahaan yang tidak seimbang. Persoalan kesehatan mental ini menjadi aspek penting dalam pemenuhan hak keselamatan dan kesehatan kerja (K3) para pekerja. Survei Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) menemukan kondisi di mana pekerja dalam sektor industri kreatif tidak mendapatkan istirahat yang cukup sehingga memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.

Baca:  Bekerja di Coworking Space, Pastikan 5 Hal Ini terlebih dahulu

 

Selain kondisi kerja yang kurang istirahat, para pekerja di industri tersebut tidak memiliki kejelasan karir di masa depan. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengatakan tiap tahunnya sektor ekonomi kreatif makin digemari oleh generasi milenial. Pertumbuhan tenaga kerja di sektor kreatif terus meningkat tiap tahunnya. Pada 2015, industri ini memiliki tenaga kerja sebesar 15,9 juta orang. Tahun 2016, meningkat menjadi 16,9 juta orang dan di 2017 sebesar 17,4 juta orang.

Ekonomi kreatif disebut-sebut bakal menjadi tulang punggung perekonomian negara ini. Tetapi, bagaimana dampaknya jika para pekerjanya tak memerhatikan kesehatan mental? Terlebih, hasil penelitian Karolinska Institutet menyebutkan orang-orang yang bekerja di dunia kreatif cenderung memiliki gangguan kesehatan mental. Penelitian yang dibiayai oleh Dewan Riset Swedia itu mengungkapkan pekerja industri kreatif lebih cenderung mengalami depresi, kecemasan, schizophrenia, dan ketergantungan terhadap obat-obatan.

Fleksibilitas yang menjadi ciri khas dalam era ekonomi digital telah berdampak pada kondisi kerja pekerja kognitif atau mereka yang bekerja memproduksi pengetahuan. Fleksibilitas tersebut membuat pekerja lepas, pekerja mandiri, atau pekerja independen semakin relevan dalam era yang kerap disebut sebagai revolusi industri 4.0. Individualisasi pekerja dan semakin tidak jelasnya hubungan kerja membuat para pekerja di dalamnya berada dalam kondisi rentan yang mengancam kondisi kesehatan, termasuk kesehatan mental.

Dosen muda Ben Laksana mengatakan kesehatan mental acapkali luput dari perhatian. Padahal, kesehatan mental adalah sebuah ‘masalah’. Seharusnya kesehatan mental harus secara massif dibahas. Ditemui saat menghadiri Work Life Balance Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Sindikasi dan CoHive, Ben menilai pembahasan kesehatan mental harus digencarkan. Apalagi di era revolusi industri 4.0 yang menurutnya justru bisa menjadi boomerang bagi para pekerja.

“Negara ini mendorong diskursus revolusi industri 4.0 yang katanya akan sangat menguntungkan kita, tapi nyatanya kalau kita telusuri lebih dalam hanya melanggengkan eksploitasi di tengah masyarakat kita. Itu jarang sekali dibahas, apalagi saya sebagai dosen sering sekali Universitas itu sangat mendorong narasi itu katanya akan menguntungkan adik-adik saya, murid-murid saya ini kedepannya nanti, tapi sebenarnya kita belum tahu nih bentuk pendidikan, pengetahuan untuk revolusi industri 4.0 seperti apa,” kata Ben.

Baca: Yogyakarta, Ruang Kerja dan Gotong Royong

 

Work Life Balance Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Sindikasi dan CoHive pada 9 Februari lalu mengangkat tema isu kesehatan mental dan pekerja ekonomi digital. Ben mendorong agar kegiatan yang fokus membahas kesehatan mental diperbanyak. Bahkan, isu kesehatan mental harus menjadi salah satu arus utama pembahasan di negeri ini. “Diskusi seperti ini lebih harus diutamakan dan itu mungkin strategi kita orang-orang yang progresif untuk mengarusutamakan narasi-narasi alternatif seperti ini,” kata Ben.

Aktivis pendidikan Rara Sekar yang hadir bersama Ben Laksana ke Work Life Balance Festival menambahkan, kesehatan mental acapkali justru diindividualisasi. Dalam artian, gangguan psikologis justru dianggap sebagai kesalahan dari individu bukan dari struktur yang mengelilingi seorang pekerja. Bekas vokalis Banda Neira ini menilai gangguan kesehatan mental berasal dari segala aspek.

“Kesannya itu pekerja-pekerja yang mengalami gangguan psikologis itu disalahkan ke pekerjanya bukan kepada struktur yang menindas para pekerjanya. Mungkin pendekatan-pendekatan praktisi kesehatan mental itu diubah dan harus melampaui tidak hanya pada individual tapi struktur sosial, mulai masyarakat, mungkin dari keluarganya yang terus memberikan stigma bahwa kerja itu tidak perlu eksploitasi terhadap pekerjaan,” kata Rara yang merupakan istri Ben Laksana.

Ketua Sindikasi Ellena Ekarahendy mengatakan Work Life Balance Festival merupakan ruang bagi para pekerja untuk saling berinteraksi agar tidak merasa sendiri ketika menghadapi situasi kerja yang penuh dengan kerentanan. Dalam acara, dibahas tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam bekerja di era yang serba cepat yang rentan mengancam kesehatan mental.

Ellena juga mengaku senang bisa berkolaborasi dengan CoHive dalam menggelar Work Life Balance Festival yang telah memasuki tahun kedua. CoHive sebagai operator coworking space (ruang kerja bersama) memiliki kampanye ‘Ubah Cara Kerjamu’ untuk mewujudkan keseimbangan dalam bekerja demi mencegah gangguan kesehatan mental. “Sindikasi seneng banget bisa berkolaborasi dengan CoHive yang punya tempat kondusif banget untuk pekerjanya terutama bagi pekerja lepas yang sekarang lagi banyak banget di era ekonomi digital,” kata Elena.

Head of Corporate Communication CoHive, Kartika Octaviana, mengatakan pihaknya bersama Sindikasi memiliki satu misi. CoHive dan Sindikasi sama-sama menjunjung tinggi pentingnya keseimbangan dalam bekerja demi mencegah gangguan kesehatan mental. CoHive selalu berupaya menghadirkan iklim kerja yang nyaman bagi siapapun. Mengusung kampanye ‘Ubah Cara Kerjamu’, CoHive menjunjung tinggi keseimbangan dalam bekerja meliputi, pengelolaan stres kerja dan manajemen waktu.

Apa yang terjadi ketika pekerja mengalami gangguan kesehatan mental? Awalnya pasti akan mengalami stress. Pekerja yang mengalami stress akan mengalami kelelahan secara fisik dan emosi. Dampaknya pekerja yang mengalami kelelahan secara fisik dan emosi tidak akan produktif.

Salah satu usaha yang dilakukan oleh CoHive adalah memberikan rasa nyaman dan bahagia untuk para pekerja. Rasa nyaman bisa dihadirkan lewat tempat kerja dengan fasilitas pengusir penat, seperti game room, fasilitas olahraga (billiard, tenis meja, sepeda statis) bahkan kursi pijat. Semua fasilitas ini tersedia di 29 lokasi CoHive. CoHive juga bekerjasama dengan 20Fit, memberikan kelas olahraga bagi para member di tiap hari Senin dan Jumat. Selain itu, CoHive juga memiliki agenda rutin bagi komunitas untuk saling berkenalan dan membangun jaringan, salah satunya adalah acara ‘Meat and Eat’ yang merupakan ajang diskusi bagi para members CoHive mengenai kehidupan pekerjaan mereka.

“CoHive berupaya memajukan infrastuktur fisik berupa fasilitas-fasilitas dan juga fasilitas non fisik dengan berbagai kegiatan. Semoga ini bisa membantu meringankan tingkat stress industri kreatif dan media yang terus berevolusi dengan tekanan pekerjaan yang semakin tinggi,” kata Kartika.

Kampanye ‘Ubah Cara Kerjamu’ telah CoHive lakukan dengan membuat video series di channel Youtube CoHive dengan judul Ubah Cara Kerjamu The Series: Melihat seni kolaborasi dan wadah komunitas dengan upaya yang penuh gairah. Dari tiga episode yang telah diproduksi, salah satunya membahas mengenai kisah hidup seorang seniman visual dan sutradara film Anggun Priambodo. Dalam video terangkum bahwa sebagian besar waktu setiap manusia tanpa disadari diisi dengan berkomunikasi satu sama lain.

Menyadari pentingnya kesehatan mental bagi para pekerja, sudah saatnya kampanye ini terus digaungkan dalam diskusi publik. Tak hanya lewat kata-kata saja, aksi nyata juga perlu dilakukan untuk mencapai kesehatan mental yang sesungguhnya, mulai dari menyediakan fasilitas ruang kerja yang nyaman hingga membuat berbagai kegiatan yang mampu mengurangi stress para pekerja. Mari peduli kesehatan mental! #ubahcarakerjamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *