Wilson Tirta, Pentingnya Membangun Relasi Dalam Mengembangkan Bisnis

wilson tirta membangun relasi

Wilson Tirta Tamin, seorang pebisnis muda asal Surabaya ini menceritakan salah satu rahasianya dalam mengembangkan bisnis, yakni membangun relasi. Tahun ini, Wilson baru menginjak usianya yang ke 18 tahun, tetapi ia telah memiliki sederet pengalaman dalam berbisnis. Berawal dari bangku sekolah dasar, ia kemudian mulai belajar secara serius mengenai bisnis.

Dalam mengasah kemampuannya dalam berbisnis, Wilson menjelaskan bahwa penting untuk mencoba banyak hal dan membangun relasi. Ia berpikir, belajar melalui mentor dapat membantunya untuk mengembangkan dirinya sebagai pebisnis dan juga mendapatkan pengetahuan lebih mengenai banyak hal mengenai bidang yang ia minati. Ia sendiri bercerita bahwa kepada mentor – mentornya inilah Ia kerap mendiskusikan langkah – langkah yang harus diambil sebagai pebisnis, terlebih bila dihadapkan dengan isu genting yang perlu ditangani dengan kepala dingin.

Tumbuh di lingkungan keluarga pebisnis membuka mata Wilson mengenai kiat-kiat penting yang perlu diperhatikan dalam membangun relasi dan mengembangkan bisnisnya sendiri. Meskipun ia mengaku seluruh bisnis yang ia lakukan murni karena ketertarikannya terhadap bisnis, ia setuju bahwa orang tuanya juga memiliki peran yang besar dalam memberikan dukungan pada setiap langkah yang ia ambil. Salah satunya dalam keputusannya untuk homeschooling. Pada tahun 2017, Wilson mencoba untuk meraba peluang bisnis di bidang perfilman yang berbuah manis dengan karya pertamanya yang berjudul Ular Tangga.  Sebagai salah satu produser film Ular Tangga, Wilson mencoba untuk membagi konsentrasinya dalam bekerja dan sekolah melalui program home schooling.

Kini, Wilson tidak hanya dikenal sebagai pebisnis muda yang telah berhasil di bidang properti dan production house, namun juga sebagai pemilik TangKitchen.Id. TangKitchen adalah lini bisnis kuliner yang tengah Ia kembangkan sejak awal tahun 2020. Melihat kemahirannya dalam berbisnis sejak usia muda, CoHive VOZA mengundang Wilson untuk berbincang lebih lanjut mengenai karirnya sebagai seorang pebisnis muda dalam diskusi yang berjudul “Generation Z, the Next in Line for the Greatest Generation” (Generasi Z, Generasi Selanjutnya sebagai Generasi Terbaik yang Pernah Ada). Diskusi menarik ini dimoderatori oleh Windyannisa Cindrati, Community Relations Associate CoHive.

 

Halo Wilson! Kami dengar kamu pertama kali terjun ke dunia bisnis sejak kamu SD? Apakah cita – cita kamu sebagai pebisnis lahir karena dorongan dari orang tua kamu?

Aku rasa tidak ada dorongan atau paksaan dari orang tuaku untuk aku menjadi seorang pebisnis. Awalnya, aku memulai ini semua karena tidak sengaja, namun setelah aku jalani selama beberapa waktu, aku mulai merasa nyaman melakukannya, maka dari itu aku teruskan sampai sekarang. Bila dilihat ke belakang, aku memulai bisnis pertama kali ketika aku kelas 3 SD, yakni dengan meminjamkan pensil warna ke adik kelas ku. Awalnya, aku hanya ingin meminjamkan pensil warnaku ke mereka yang lupa membawa pensil warna mereka ke sekolah, tetapi aku justru menerima uang imbalan dari mereka. Dari situ aku mulai belajar banyak mengenai bisnis hingga sekarang aku sudah mulai berkecimpung di beberapa lini bisnis, termasuk properti dan production house.

Lantas bagaimana cara kamu membagi waktu antara sekolah dengan bisnis?

Kebetulan aku baru saja menyelesaikan sekolahku, jadi aku bisa membagi waktuku dengan sangat baik, terlebih kalau aku mau ekspansi bisnis kulinerku (TangKitchen.id). Untuk saat ini, aku dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Namun sebelumnya, ketika aku mulai merambat di bisnis perfilman, aku sempat homeschooling untuk beberapa bulan karena aku harus ada di lokasi shooting untuk memantau prosesnya dari awal hingga akhir. Aku rasa yang terbaik bisa dilakukan untuk dapat konsentrasi di dua bidang sekaligus adalah dengan membagi waktu sebaik mungkin, contohnya aku membawa buku pelajaran di lokasi shooting. Aku berusaha untuk terus belajar di sela-sela waktu yang aku punya, dengan begitu aku tidak ketinggalan untuk mempersiapkan ujian sekolah yang akan datang dengan film yang saat itu sedang aku kerjakan. 

 

 Baca juga: Mengembangkan Brand Awareness di Media Sosial

 

Selain film yang kamu kerjakan, kamu juga sempat berkecimpung di dunia properti dan sekarang sedang merintis TangKitchen. Apakah ada alasan tersendiri dari kamu mencoba banyak lini bisnis di waktu yang bersamaan?

Dari semua bisnis yang aku lakukan, ada beberapa yang aku support dari belakang saja, artinya aku tidak terjun langsung ke proses pengembangannya. Dari situ, aku dapat mencoba banyak lini bisnis yang berbeda-beda. Untukku sendiri, belajar dari banyak jenis bisnis dapat mempersiapkan aku untuk fokus di bisnis yang dipegang secara langsung. Ibaratnya, aku menghabiskan jatah gagalku sebelum fokus di satu lini bisnisku, yakni TangKitchen.id. Selain itu, aku rasa aku sudah mulai memilih bidang kuliner untuk bisnis, kedepannya, aku ingin menambah cabang dan fokus di TangKitchen lebih baik lagi.

 

Sebagai pebisnis muda, apa saja kesulitan yang Anda hadapi saat merintis bisnis, terlebih dengan kondisi saat ini? Bagaimana kamu berhasil mengatasinya?

Kebetulan, aku sendiri membuka TangKitchen di tengah pandemi, dibandingkan dengan kesulitan, aku justru berharap bisnis ini dapat membuka lowongan baru bagi teman – teman di masa serba sulit seperti saat ini. Tetapi, jika kita membahas soal beban yang aku hadapi di tengah pandemi, salah satu bisnisku yang lain (Surabaya Patata, toko oleh – oleh asal Surabaya), terkena efek pandemi hingga omset yang menurun sebanyak 75%. Angka tersebut sangat tinggi sehingga kita harus melakukan pengurangan di berbagai hal, meskipun berat, bisnis dapat terus berjalan. Selain itu, aku selalu membawa masalah yang aku punya dalam doa dan mendiskusikannya dengan mentor. Aku percaya bahwa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda dengan pengalaman masing – masing. Maka dari itu, aku suka mendiskusikan masalah yang aku punya dengan mentor yang lebih berpengalaman untuk dapat menyelesaikan situasi sulit di bisnisku.

 

Saat ini banyak banget anak muda yang sudah mulai terjun ke dunia bisnis, namun banyak juga yang belum berpengalaman. Bagaimana cara yang tepat untuk merintis bisnis dari kacamata kamu sendiri?

Sebelum membangun bisnis, aku selalu mencari market leader dari bidang tersebut yang kemudian aku jadikan tolak ukur untuk bisnisku. Sebagai contoh, aku berada di bidang kuliner online, maka aku akan mencari bisnis yang sudah besar di bidang yang sama. Berawal dari situ, aku kemudian dapat mempelajari langkah – langkah yang dapat aku ambil untuk menjadi sesukses beliau. Itulah sebabnya, aku merasa sangat amat penting untuk kita membangun relasi dan menemukan mentor yang tepat. Sehingga, kita dapat belajar dan mengembangkan diri serta bisnis kita di kemudian hari.

 

Saat ini, generasi muda tidak hanya tertarik dalam melakukan bisnis namun juga dalam berinvestasi. Kalau Wilson sendiri, bagaimana cara kamu mengatur keuangan kamu?

Untuk aku, investasi tidak hanya bisa dilakukan dengan uang, tetapi juga pada welfare di sekitar kita. Berinvestasi pada welfare dapat kita mulai pada lingkungan kita, seperti pada teman, kolega, atau lainnya. Menuai kebaikan pada orang lain akan berbalik dengan hal yang lebih baik lagi. Oleh sebab itu, aku percaya bahwa berinvestasi pada kebahagiaan orang lain juga sama pentingnya dengan berinvestasi di tempat lain. Selain itu aku juga selalu memutarkan uangku untuk mengembangkan bisnisku atau untuk membuka lini bisnis yang baru. Contohnya adalah pada bisnisku di rumah produksi yang modalnya aku dapatkan dari bisnis yang aku lakukan di bidang properti. Tidak hanya pada bisnis, aku juga aktif berinvestasi di saham, bitcoin, dan juga forex.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.