Cerita Jurnalis di Tengah Pandemi

Saat ini, dunia sedang dilanda wabah yang menyebar dengan cepat: Coronavirus atau COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan virus ini sebagai pandemi, dan setiap institusi dan lembaga di seluruh dunia mengambil tindakan pencegahan ekstra untuk memerangi penyebaran COVID-19. Pemerintah Indonesia telah menghimbau warga untuk tetap di rumah, bekerja di rumah, dan melakukan pembatasan sosial atau social distancing bahkan pembatasan fisik atau physical distancing untuk mencegah penyebaran COVID-19. Ketika masyarakat dapat bekerja dari rumah, banyak juga yang tidak dapat menerapkannya. Banyak pekerjaan yang mengharuskan pekerjanya untuk bekerja di lapangan, termasuk jurnalis; keberadaan mereka sangat dibutuhkan dalam situasi seperti saat ini.

Dalam situasi ini, tidak dapat dipungkiri masyarakat berada dalam keadaan siaga tinggi. Dengan teknologi saat ini, informasi dapat diperoleh dari banyak sumber, seperti portal berita online, media sosial, dan aplikasi pesan singkat. Saking banyaknya informasi, jumlahnya tidak dapat terhitung dan beredar begitu cepat, sehingga menciptakan potensi misinformasi dan hoaks yang besar. Berdasarkan Kementerian Komunikasi dan Informatika, per 15 Maret 2020, terdapat 217 hoaks dan misinformasi yang tersebar di banyak platform digital. Ini jumlah yang mengkhawatirkan, sumber berita terpercaya sangat dibutuhkan untuk mencegah histeria massal dan kepanikan yang tidak diperlukan di antara masyarakat.

Seminar online bertajuk CoLearn, diadakan oleh CoHive dengan judul “Menghadapi Pandemi: di Belakang Ruang Redaksi (Facing Pandemic: Behind The Newsroom) membuka diskusi inspiratif tentang bagaimana para pelaku media menyajikan berita yang akurat dan aktual ke masyarakat. Pembicaranya adalah Marvin Sulistio (pembawa berita Metro TV) dan Cindy Permadi (Jurnalis Kompas TV), dan di moderasi oleh Nadia Atmaji (Corporate Communication Associate CoHive). Dengan menggunakan platform Zoom, seminar online kali ini diikuti oleh lebih dari 100 orang.

Bekerja dari rumah merupakan suatu kemewahan bagi pembawa berita TV dan jurnalis, karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk berada di lapangan atau datang ke studio untuk membawakan berita. Sebagai pembawa berita TV, Marvin diperlukan untuk memberikan berita kepada orang-orang yang tetap berada di rumah. Menurutnya, orang yang bekerja di perusahaan media tidak bisa benar-benar bekerja dari rumah. Oleh karena itu, diberlakukan lah pengurangan jam kerja. Mengikuti salah satu rekomendasi Gubernur DKI Jakarta untuk mengurangi jumlah orang yang bekerja bersama serta menjaga jarak fisik. Dengan demikian, timnya dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Dengan cara ini, potensi keramaian dan kontak fisik antar pegawai di kantor dapat diminimalisir, dan para pembawa berita masih dapat menyampaikan berita di TV sembari tetap dapat melakukan tindakan preventif. 

Tindakan pencegahan lebih lanjut juga telah diambil oleh manajemen Metro TV. Sebagai contoh, pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk gedung, hingga menutup kantin untuk mempraktikan jaga jarak sosial. Marvin menjelaskan bahwa kantin tidak lagi menyediakan meja dan kursi, tetapi hanya melayani pemesanan untuk dibawa. Bahkan stasiun TV telah mempersiapkan rencana cadangan dan protokol jika terdapat pegawai yang terbukti positif COVID-19.

Di sisi lain, sebagai jurnalis Cindy harus pergi ke zona berbahaya untuk meliput berita dengan lebih akurat. Dia berbagi pengalaman ketika dia meliput kedatangan anak buah kapal (ABK) World Dreams dan Diamond Princess di Pulau Sebaru Kecil. Selama 13 hari liputan, dia melewati banyak perjuangan, seperti bagaimana dia kadang-kadang tidak bisa mewawancarai orang tertentu, sulitnya akses ke lokasi, dan bagaimana dirinya tetap dapat menjaga kesehatan.

Cindy menjelaskan bahwa selama pengamatan ABK, ia harus mengenakan masker selama berjam-jam, dan hanya melepasnya ketika ia berada di lingkungan yang aman. Mengenai fakta COVID-19 yang ada, selama pelaporan berita, Cindy tidak menggunakan masker untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa masker tidak perlu digunakan jika mereka merasa sehat, karena dapat memberikan persepsi yang keliru bahwa menggunakan masker adalah suatu keharusan.

Kantor Kompas TV juga merubah sistem hari kerja peliputan para reporternya. Yang semula 5 hari kerja dua hari libur, menjadi 3 hari masuk dan 2 hari libur. Selain itu, sebelum liputan, para reporter dan camera person dibekali masker serta hand sanitizer. Mereka yang liputan ke lapangan dipastikan dalam keadaan sehat. Bahkan terkadang mereka hanya perlu meminta narasumber untuk menjawab pertanyaan wawancara melalui video yang direkam sendiri dan dikirim melalui aplikasi Whatsapp

Berbagai pertanyaan menarik datang dari partisipan, seperti apa pandangan media perihal implementasi kebijakan penutupan daerah. Marvin dan Cindy sepakat bahwa media saat ini tidak berada dalam posisi mendukung atau tidak mendukung lockdown namun berada dalam posisi mempertanyakan kesiapan pemerintah tentang logistik bahan pangan, keamanan sosial yang memadai, dan dukungan pendapatan. Pasalnya, hal-hal tersebut sangatlah esensial, terutama bagi penerima upah harian, dan berdampak pada ekonomi secara keseluruhan. Selain itu, para peserta mengapresiasi peran media dalam meningkatkan kesadaran situasi krisis di masyarakat, terutama di daerah pedesaan.

Bagian penting dari menjadi pembawa berita dan jurnalis tidak hanya untuk menyampaikan berita yang akurat dan faktual, tetapi juga untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang situasi yang sedang terjadi. Ini juga untuk mencegah tersebarnya misinformasi di kalangan masyarakat Indonesia. Baik Cindy dan Marvin menyarankan para peserta untuk menghentikan rantai informasi yang keliru dan hoaks dengan meninjau pesan yang diterima, seperti mencari tahu sumbernya, memeriksa ulang apakah tautan yang diberikan kredibel, dan keaslian gambar yang digunakan pada pesan. Pilihan yang terbaik adalah mengandalkan media tentang berita terbaru, terutama pada masa kritis seperti ini. Yang terakhir, Cindy dan Marvin menyarankan agar tetap berdiam di rumah untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Seperti yang dikutip dari Marvin sendiri, tetap di rumah dan biarkan mereka menyampaikan berita untuk Anda di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.