Andi Kristianto: Pentingnya Hubungan Timbal Balik untuk Tinc

 

PT Telekomunikasi Selular, Telkomsel adalah penyedia jaringan nirkabel terbesar di Indonesia dengan lebih dari 170 juta pelanggan pada tahun 2019. Sebagai operator jaringan 4G terluas di tanah air, Telkomsel melihat adanya potensi besar yang dimiliki oleh banyak startup lokal di bidang Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence, Big Data, Machine Learning, dan Financial Technology. Berangkat dari hal tersebut, Telkomsel kemudian terpacu untuk mendorong potensi teknologi mutakhir melalui Telkomsel Innovation Center (Tinc) – sebuah platform inkubasi dan akselerasi startup yang berfokus pada solusi digital teknologi terkini.

Dalam membahas lebih dalam mengenai Tinc dan keunggulannya sebagai salah satu program inkubasi dan akselerasi startup di Indonesia, CoHive berbincang-bincang secara mendalam dengan Andi Kristanto, Vice President Corporate Strategy dari PT Telkomsel Indonesia sekaligus CEO dari Telkomsel Mitra Inovasi. Pada hal ini Andi menjelaskan bahwa Telkomsel memiliki banyak sekali aset berharga yang dapat dileverage oleh innovator Indonesia. Beliau melihat adanya peran besar yang dimiliki oleh Telkomsel untuk dapat mendampingi startup-startup unggul di Indonesia melalui kolaborasi yang memfokuskan pada pengembangan ekosistem inovasi digital. Melalui program inkubasi ini, Telkomsel berharap untuk dapat mengakomodasi berbagai inovasi baru dengan para inovator lokal dan mendorong kemajuan ekonomi digital Indonesia.

 

Sejauh apa Tinc telah menjawab visi misi nya sebagai akselerator dan inkubator untuk startup di Indonesia?

Tinc lahir sebagai salah satu wujud inisiatif dari Telkomsel untuk bersinergi bersama innovator Indonesia. Kami sadar bahwa kami tidak dapat berkembang dengan hanya mengandalkan diri kami sendiri tapi kami memerlukan bantuan dan perspektif dari pihak lain terutama para startup. Di sisi lain, kami sadar betul akan akses kami yang besar dan dapat kami leverage. Dalam perjalanan kami mengelola Tinc, telah banyak pelajaran yang kami dapat sehingga kami dengan yakin dapat memposisikan Tinc sebagai akselerator dan inkubator yang memiliki keunikan utama yaitu sebagai berada di bawah naungan Telkomsel dengan seluruh aset yang kami miliki dan dapat dimanfaatkan.

 

Apa yang menjadikan TINC sebagai pilihan program akselerasi dan inkubator yang tepat untuk para startup?

Bagi saya, baik akselerator atau inkubator perlu memiliki kecocokan yang baik dengan peserta yang terlibat di programnya, kurang lebih seperti menjalin hubungan dengan pasangan. Untuk TINC, kami percaya bahwa Telkomsel dapat menyediakan baik akses networking dan funding, tapi terlepas dari kedua hal itu, Telkomsel juga memiliki aset unik lain yang dapat mendorong pertumbuhan startup di Indonesia. Sebagai contoh, Telkomsel memiliki pemahaman yang baik tentang berjuta pelanggannya dan juga memiliki jangkauan yang luas di seluruh Indonesia. Sisi unik ini dapat menjadi hacking tools yang dapat mengakselerasi pertumbuhan startup secara signifikan. 

 

Mengenai Startup dan Telkomsel

 

Telkomsel telah berinovasi dalam beragam bentuk ekosistem startup, baik program akselerator seperti Tinc, dan Telkom Mitra Inovasi (TMI), setelah terlebih dahulu mulai dengan Tinc, apa yang membedakan kedua program tersebut?

Secara teknis Tinc dan TMI agak mirip karena sama-sama membudidayakan aset-aset Telkomsel. Perbedaannya ada di fasenya, sebagaimana Tinc lebih untuk startup yang masih di fase awal sehingga kami masuk sebagai inkubator ataupun akselerator sedangkan TMI lebih condong ke CVC (Corporate Venture Capital) yang lebih diperuntukkan untuk startup yang berada di later stage yang mempunyai operasi bisnis yang sudah lebih teruji (seperti revenue stream yang sudah lebih stabil dan growth rate yang sehat).  

 

Dengan pandemi saat ini, banyak sektor pekerjaan yang mengalami transformasi, apakah tantangan terbesar startup dan investor dalam masa pandemi ini? 

Berkaca dari sisi pengembangan ekosistem, pandemi ini bisa dilihat sebagai proses seleksi alam bagi startup dengan nilai fundamental yang baik. Salah satu tantangan terbesar yang saya amati adalah kemampuan spending masyarakat yang melemah. Hal ini mengakibatkan roda ekonomi turut melambat. Meskipun begitu ada juga lini bisnis yang malah mendapat dorongan dengan adanya pandemi ini. Contohnya, mereka yang bergerak di bidang digital dan telekomunikasi. Oleh karena itu, dari kacamata inkubator dan akselerator pun kami dapat melihat bisnis mana yang mampu bertahan melalui situasi ini.

Selain itu, sebagai Corporate Venture, kami tidak melihat bisnis dari jangka pendek saja. Sehingga, meskipun ada pandemi kami percaya kesempatan akan hadir pada beberapa tahun yang akan datang. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa kami akan menjadi lebih selektif dalam menentukan kriteria startup yang akan kami bina, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi kami untuk terus melakukan investasi.

 

Startup banyak dilihat sebelah mata sebagai perusahaan yang banyak mengalokasikan uangnya dalam jumlah besar pada fase awal nya. Namun, berkaca pada hasilnya tidak sedikit startup yang justru tenggelam dan gulung tikar setelahnya, bagaimana pendapat bapak mengenai hal tersebut?

Saya percaya bahwa pada dasarnya startup adalah sebuah longview game, untuk itu saya yakin startup memerlukan sikap yang disiplin dalam mengalokasikan dana dan menentukan langkah bisnisnya. Di sisi lain, investor juga paham bahwa tidak mudah bagi startup untuk mendapatkan keuntungan yang besar pada fase-fase awal. Akan tetapi untuk startup, mencari kesempatan membutuhkan approach yang tepat dengan konsumen dan sikap yang disiplin dalam menjalankan bisnisnya. Saya sendiri melihat bahwa kegiatan alokasi dana besar-besaran ini dapat dipertanggungjawabkan apabila dilakukan dengan strategi yang baik dan benar. Tidak bisa dipungkiri bahwa strategi tersebut juga merupakan salah satu opsi startup untuk tumbuh.

 

Menurut kacamata Tinc, apakah Anda memiliki nasihat bagi para pemula untuk memenangkan pitching?

ada beberapa hal yang kita perhatikan ketika menilai proses pitching. Pertama adalah, jenis bisnis yang dilakukan dan seberapa menarik dan terencana bisnis tersebut. Kedua adalah founder yang terpercaya, dia tahu apa yang dia lakukan dan akan dibawa kemana bisnis nya tersebut. Ketiga, kami memiliki sumber daya yang terbatas selain pendanaan, yakni waktu dan tenaga, sehingga mencari rekan yang tepat memerlukan proses yang panjang dan terencana. Dari ketiga hal tersebut, yang paling penting adalah hubungan timbal balik dari kedua belah pihak. Sehingga, penting untuk startup melihat visi jangka panjang bisnisnya terlebih dahulu, seperti mengetahui apa yang akan mereka lakukan, apa yang telah mereka lakukan, dan bagaimana aset telkomsel dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis kedua belah pihak.

 

Baca juga: Peran Program akselerasi Untuk Startup

Mengenai Tinc dan CoHive

 

CoHive adalah salah satu ekosistem startup terbesar di Indonesia, menurut Bapak bagaimana kerjasama antara CoHive dengan Tinc sebagai akselerator dan inkubator dapat membantu berkembangnya startup di perusahaan kami terutama disaat pandemi ini?

Di masa tidak menentu seperti ini, dibutuhkan banyak kepala untuk berkolaborasi dan brainstorming. Dengan bergabungnya pemain-pemain yang bersifat ecosystem builder (pembentuk ekosistem) seperti CoHive dan Tinc yang memiliki keunikannya masing-masing, bisnis dapat dileverage dan membangun keunikannya sendiri. Selain itu dapat memperluas potensi startup dalam hal networking, akses ke pasar, dan banyak hal lainnya.

 

Pesan yang bisa disampaikan kepada startup yang ingin mengikuti program akselerasi Tinc?

Salah satu saran saya adalah untuk mengenal Telkomsel dengan baik. Menurut saya, mengenal Telkomsel hanya dari kulitnya saja tidak akan dapat menguntungkan satu sama lain. Oleh karena itu mereka yang mengenal produk kami dengan baik dapat menggunakan aset-aset Telkomsel dalam menghadirkan inovasi-inovasi baru. Startup seperti itulah yang memiliki kecocokan dengan Tinc. Jadi fungsi kami tidaklah sekedar memberikan pendanaan atau funding saja tapi yang perlu diperhatikan adalah unit aset perusahaan tersebut dan bagaimana posisi telkomsel dan Tinc dapat saling menguntungkan kedua belah pihak.

Jadi para startup perlu melakukan background research yang mendalam mengenai akselerator yang mereka tuju. Karena di sisi lain, akselerator juga memiliki problem yang ingin mereka selesaikan melalui program ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.