Alami Sharia: Startup Fintech Syariah Punya Masa Depan Cerah

Perusahaan fintech Islam di Asia Tenggara menawarkan layanan digital dengan daya tarik yang besar. Pasar utama di wilayah ini adalah Indonesia, rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia, yakni lebih dari 230 juta orang. Fintech Islam mengikuti prinsip-prinsip yang dijabarkan dalam syariah, hukum agama Islam. Meskipun sistem keuangan seperti ini telah dipraktikkan selama berabad-abad, perbankan modern yang patuh pada syariah baru terbentuk sejak pertengahan abad ke-20 dan seterusnya, didorong oleh kemerdekaan dan meningkatnya kesejahteraan negara-negara mayoritas Muslim.

Hingga saat ini, penerapan sistem keuangan Islam hanya mencapai 5-6 persen dari populasi. Angka yang cenderung rendah ini menggerakkan tiga profesional muda, Harza Sandityo, Dima Djani, dan Bembi Juniar untuk membangun perusahaan startup di bidang fintech Islam yang disebut Alami Sharia. Ini adalah perusahaan pemberi pinjaman peer-to-peer (P2P) yang mendasarkan transaksi mereka pada prinsip Islam. Selama satu setengah tahun — sejak pertengahan 2018 — perusahaan telah berkembang cukup pesat.

Sebagai salah satu perusahaan fintech Islam termuda, Alami Sharia telah berhasil mengumpulkan dan mendistribusikan dana sekitar 130 miliar rupiah dalam waktu kurang dari dua tahun. Salah satu Co-Founder Alami Sharia, Harza Sandityo, menjelaskan bahwa ini disebabkan oleh perubahan dalam model bisnis yang telah dilakukan oleh Alami Sharia, serta didukung oleh visi kuat dan semangat tim yang solid sehingga memiliki dampak positif pada keberlanjutan bisnis.

CoHive memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Harza Sandityo, Co-Founder dan Chief Operation Officer (COO) yang mengarahkan departemen hukum, modal manusia, keuangan, dan operasi. Harza berbagi tentang pengalaman roller coaster miliknya dan co-founder lainnya dalam membangun Syariah Alami. Mari bergabung dengan percakapan kami!

 

CoHive: Halo Mas Harza, Bagaimana dan mengapa startup fintech Alami Syariah didirikan?

Halo! Idenya telah dimulai sejak beberapa waktu yang lalu. Dimulai dengan ide yang kami bicarakan di sebuah garasi, kemudian sebuah visi terbentuk. Dan kemudian kami ikut serta dalam kompetisi modal ventura yang diadakan oleh INSEAD di Singapura. Datang di tempat kedua kami mendapat hibah yang kami gunakan untuk mengembangkan dan melaksanakan ide-ide.

Bagaimana dan mengapa startup fintech Alami Sharia ini didirikan?

Sebetulnya idenya sudah cukup lama, berawal ide dari garasi, lalu terbentuklah visi. Lalu dari nongkrong kami ikut kompetisi modal ventura yang digelar oleh INSEAD di Singapura. Keluar sebagai juara 2 kami mendapat grant yang kami manfaatkan untuk mengembangkan dan mengeksekusi ide. 

Seperti apa potensi startup fintech syariah di Indonesia?

Kita percaya bahwa sistem keuangan syariah ini masih banyak potensinya. Saat ini system keuangan syariah hanya menyentuh 5-6% populasi muslim di Indonesia, padahal Indonesia 90% dari sekitar 250 juta penduduknya beragama Islam.  Kami yakin hadirnya teknologi finansial bisa meningkatkan presentase itu.

 

Tanpa henti menyosialisasikan startup fintech syariah

Lantas apa sebetulnya kendala dari startup fintech syariah bisa diterima oleh masyarakat?

Potensinya itu sebetulnya gede bgt. Tapi masih ada keragu-raguan, apakah Alami Sharia ini beneran syariah gaksih? Atau cuma embel-embel? Ini wajar, karena bagaimana pun, literasi keuangan masyarakat saja masih minim. Karena itu, berbagai upaya kami lakukan untuk memperkenalkan fintech syariah. Salah satunya memberi sosialisasi ke lapangan, ke kampus, ke masyarakat umum, dan tentunya juga di media sosial. Sejauh ini responnya alhamdulillah bagus, banyak yang penasaran. Rasanya ini tercermin dari pertumbuhan pendanaan di angka yang memuaskan.

Apa yang membuat Mas Harza semangat dalam membangun Alami Sharia?

Saya terus bersyukur bahwa saya bisa bekerja sambil beribadah. Sejak kuliah dulu, walaupun di Fakultas Hukum UI, saya selalu ingin membangun bisnis dan menjadi founder. Padahal membangun usaha ini tidak mudah, setiap hari selalu melelahkan. Tapi saya selalu bersyukur dengan tim yang solid.

 

Coworking membantu Alami Sharia terekspos

Berapa mas sekarang jumlah karyawan Alami Sharia? Awalnya berapa?

Saat ini ada sekitar 50 orang karyawan. Sebelumnya di awal-awal hanya 5 orang saja, saya, Bembi dan Dima sebagai co-founder dan yang lain.

Wah, bagaimana ceritanya bisa berkembang pesat? Apa yang membedakan Alami Sharia dengan fintech startup syariah lainnya atau bahkan startup fintech konvensional lain?

Kami cepat beradaptasi. Awalnya memang dari ide lalu kami coba membuktian bahwa fintech syariah bisa dijadikan bisnis yang menguntungkan. Tadinya bukan peer-to-peer lending tapi lebih ke bantuin UKM untuk mendapat pendanaan dari bank syariah. Karena prosesnya tidak seperti yang diharapkan, kita pivot atau berubah Haluan jadi P2P lalu mendapat lisensi sebagai fintech yang legal dari Otoritas Jasa Keuangan. Lalu kami fundraising.

Apakah berkantor di CoHive coworking space mendukung perkembangan jumlah karyawan ini?

Iya, justru itu salah satu pertimbangan awal kami memilih coworking space. Waktu awal-awal itu mikir kalau sewa gedung ruko, karyawan kita belum sebanyak itu. Terus biayanya juga gak ada, padahal kita maunya punya lokasi yang representative. Lalu pas itu kebetulan ada event di CoHive yang kita ikutin. Selain karena lokasi yang strategis dan biaya yang terjangkau, CoHive dengan berbagai produknya memungkinkan kami untuk ‘tumbuh bersama’. Semula di CoHive Plaza Kuningan kami hanya berlima jadi menggunakan 1 ruangan private office, lalu lama-lama nambah jadi 2 ruangan. Sekarang alhamdulillah satu lantai di Plaza 89, dengan produk Built-to-Order.

Apakah ada keuntungan lain yang Alami Sharia dapat dengan berada di CoHive?

Enaknya di coworking space ini kan kita bisa ketemu sama pelaku startup lain. Ya pas lagi di communal space kita ngobrol-ngobrol, berbagi pengalaman lah. Kita juga pernah ikut Founder’s Meet Up, waktu itu si Bembi sih yang ikut, lalu ketemu client kita juga disana.

Saat ini di fundraising sedang di stage apa? Bagaimana bisa mendapat suntikan dana?

Kami di stage seed, dan telah menyelesaikan pendanaan Seri A, mohon doanya ya! Pada bulan November 2019, kami telah menerima komitmen pendanaan dari beberapa investor di Singapura dan Malaysia seperti Golden Gate Ventures, Agaeti Ventures, RHL Ventures, dan angel investor Zelda Crown.

Menarik nih mas, bukan kah jarang industri syariah melakukan fundraising?

Iya, industri syariah memang jarang yang melakukan fundraising. Tapi kami melakukan dan memastikan bahwa semua aspek fundraising sesuai dengan prinsip syariah. Ketika agreement, misalnya, ada musyarokah. Ini merupakan sebuah komitmen dan agar investor bisa mengikuti syariah principle.

Terakhir, mungkin bisa share tipsnya apa mas untuk membangun bisnis startup fintech yang berkelanjutan?

Menurut saya, bisnis fintech ini terkait dengan reputasi dan trust atau kepercayaan. Alami mencoba memberikan keamanan dan kenyamanan hati untuk penggunanya. We hire the best people and wanting to let the users know that they can trust Alami. Lalu trust itulah yang dijadikan modal untuk berkembang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.