Neng Iren, Si Penggambar Wanita Murung | CoHive Blogs

Neng Iren, Si Penggambar Wanita Murung

Irene Saputra, alias Neng Iren, adalah seorang pengilustrasi minimalis asal Jakarta. Lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Widyatama Bandung ini kerap mengilustrasikan wanita berwajah murung yang menjadi trademark brand Neng Iren.

Kita mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Neng Iren tentang art-nya.

 

Gimana sih awalnya kamu memulai karir kamu sebagai illustrator? dan sudah berapa lama?

Dari dulu nggak pernah kebayang untuk jadi ilustrator, setelah lulus kuliah saya bekerja sebagai desainer grafis.  Sampai di tahun 2011, saya merasa butuh pelampiasan akan kerjaan yang sangat menyita waktu. Hal itu yang mendorong saya untuk ‘mampir’ lagi mencoret-coret sketchbook saya. Dan, dari proses setiap hari inilah yang akhirnya saya bisa meng-improve dan mengeksplor gaya ilustrasi saya. Berkenalan dengan beberapa teman seniman-ilustrator baru, terinspirasi oleh karya mereka, sampai adanya tawaran berkontribusi di majalah fashion, membuat saya lebih giat lagi untuk berkarya. At least, wadahnya bukan hanya di sketchbook lagi. Dan makin ke sini saya makin berani buat mengeksplor karya ilustrasi saya dengan teknik yang beragam, pensil, cat air, papercut dan sekarang dengan sulaman.

Biasanya saat kamu gambar, paling sering inspirasi dapet darimana?

Biasanya dari apa yang saya lihat, dengar juga rasakan tiap hari. Saya membiasakan diri dikelilingi dengan hal-hal dan mereka-mereka yang inspiratif. Saya senang berada dalam suasana yang produktif. Secara teknis, saya suka mencari referensi melalui lookbook/ fashion spread. Saya mudah terpancing dengan ekspresi yang flat, sendu, gloomy, dengan gaya yang cenderung odd & quirky, komposisi warna, susunan layout minimalis, kadang motif/ pattern yang seru. Selain itu, musik juga sangat membantu membangun mood saya dalam berkarya.Ada artist yang jadi inspirasi kamu ngga sih? kenapa?

Sebenernya banyak sih. Beberapa di antaranya Audrey Kawasaki, James Jean, Miss Van, Julie Verhoeven, Camille Walala.

Selama ini visual kamu kebanyakan flat dan sorrow expression, kenapa?

karena kalau bahagia ceritanya mudah ditebak! ;D

Menurut kamu gimana coworking space bisa relate sama profesi kamu?

Mungkin ketika masih di tahap mencari ide, rough sketch, saya bisa melakukan proses itu di mana saja, dan sharing meja di coworking space sangat tidak masalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *