Memahami Budaya Kerja Generasi Milenial | CoHive Blogs

Memahami Budaya Kerja Generasi Milenial

Generasi milenial

Teori tentang generasi sudah muncul di Amerika Serikat pada tahun 1950-an. Ketika itu, Karl Mannheim, seorang sosiolog terkenal dari Amerika Serikat, membuat esai berjudul “The Problem of Generation”. Di esai tersebut dijelaskan bahwa perbedaan  generasi yang lebih muda dan lebih tua ternyata bisa mengakibatkan perbedaan pola pikir dan nilai-nilai yang terkandung pada zamannya. Penjelasan lengkap

Teori tentang generasi sudah muncul di Amerika Serikat pada tahun 1950-an. Ketika itu, Karl Mannheim, seorang sosiolog terkenal dari Amerika Serikat, membuat esai berjudul “The Problem of Generation”. Di esai tersebut dijelaskan bahwa perbedaan  generasi yang lebih muda dan lebih tua ternyata bisa mengakibatkan perbedaan pola pikir dan nilai-nilai yang terkandung pada zamannya. Penjelasan lengkap menurut Manheim, generasi adalah suatu konstruksi sosial dimana di dalamnya terdapat sekelompok orang yang memiliki kesamaan umur dan pengalaman historis yang sama.

Salah satu generasi yang paling menonjol adalah generasi milenial atau milenium, merujuk kepada mereka yang lahir antara tahun 1990-an. Kebanyakan generasi milenial ini merasakan perbedaan teknologi yang sangat kentara. Misalnya pada masa kecil mereka tidak bermain gadget, sekarang hampir seluruh kehidupannya bergantung kepada gadget. Efek selanjutnya yang berkembang adalah budaya kerja.

Generasi milenial lebih realistis

Salah satu hal yang membedakan antara generasi milenial dengan generasi X atau mereka yang lahir di tahun 1980-an adalah pola pikir dan cara mendapatkan informasi. Sangat wajar ketika generasi X ini disebut skeptis karena sumber infomasi sangat terbatas dan tidak sebebas sekarang, akibatnya mereka menjadi generasi yang tertutup dan sangat independen atau mampu bekerja sendiri.

Coba bandingkan dengan generasi milenial atau generasi Y, mereka disebut dengan generasi yang realistis. Akses informasi yang bisa dilihat dalam hitungan detik menjadikan mereka lebih open minded. Opini yang berserakan di internet tentu menjadikan pandangan hidup generasi milenial lebih terbuka.

Lalu, apa hubungannya dengan dunia kerja?

Generasi milenial bakal lebih percaya diri jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Ketika generasi milenial berada di bangku kuliah, mereka sudah bisa mendapatkan informasi yang seharusnya tidak didapatkan. Contohnya anak kuliah di fakultas hukum bisa belajar bagaimana kehidupan seorang pengacara, apa saja yang dibutuhkan ketika menjadi pengacara, atau sekadar membaca jurnal.

Lebih bebas

Demokrasi yang tidak dibatasi dan akses informasi di genggaman jemari, tentu menjadi alasan kenapa generasi milenial ini lebih ingin “bebas” dalam bekerja jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Sekarang coba Anda tengok kantor startup seperti Gojek, Traveloka, ataupun Tokopedia, mereka mempunyai desain ruangan yang sangat bebas. Bahkan kantor pemerintahan atau kantor bank sudah mulai meniru konsep tersebut karena generasi milenial sudah mulai masuk berdatangan.

Tidak hanya itu, generasi milenial juga menjadi pelopor pekerjaan remote. Para karyawan sekarang tidak perlu datang ke kantor setiap hari 8-5. Mereka juga di rumah dan mengerjakan pekerjaan yang didapat. Generasi milenial ini cukup datang ke kantor ketika ada meeting yang notabene dilakukan 2 kali seminggu.

Tidak hanya soal uang

Hal terakhir yang sangat menarik dari generasi milenial adalah mereka tidak terpaku pada uang. Generasi milenial rela bekerja dengan gaji yang mungkin tidak melimpah asalkan mereka mendapatkan pengalaman yang kaya.

Jadi, jika Anda pelaku usaha, jangan kaget ketika menerima banyak sekali mahasiswa magang atau fresh graduate yang terang-terangan bisa menerima gaji sedikit untuk mendapatkan pengalaman. Bagi mereka, pengalaman adalah yang utama. Mereka ingin hal-hal yang mereka kerjakan bisa benar-benar memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitar.

 

Itulah beberapa hal menarik tentang budaya kerja generasi milenial. Hal ini sangat penting bagi pelaku usaha karena menanamkan budaya perusahaan (faktor internal) lebih penting daripada target keuntungan yang cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *