Berinvestasi Selama Waktu yang Tidak Pasti

Jatuhnya harga saham telah bergema di seluruh pasar modal di dunia, termasuk Indonesia. Dampak dari krisis keuangan global tidak hanya dirasakan oleh Perusahaan Multi Nasional, tetapi juga pengusaha makro, menengah, dan mikro di seluruh negeri. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2008, Wall Street mengalami kerugian besar dalam sejarah. Peristiwa tersebut disebabkan oleh; fluktuasi harga minyak, pemangakasan suku bunga oleh Federal Reserve Bank Sentral Amerika Serikat, dan merebaknya wabah Covid-19 di seluruh dunia. Ketiga hal tersebut diketahui sebagai, “fenomena black swan”—sebuah peristiwa tidak terduga yang berpotensi memberi dampak buruk bagi sekitarnya. Fenomena ini mengajarkan para pelaku investasi untuk bersiap diri dalam kondisi apapun, khususnya secara finansial.

Meruaknya kasus Covid-19 mengakibatkan timbulnya ketakutan di antara masyarakat, khususnya para investor. Keadaan ini membuat para investor menjadi gegabah dan mulai memperjualkan sahamnya dengan harga murah. Akan tetapi, investor yang berbekal ilmu saham yang baik justru akan memanfaatkan situasi ini untuk meraih keuntungan dalam pasar modal.

Penyebaran covid-19 menimbulkan ancaman krisis keuangan dan resesi global yang kemudian menimbulkan ketakutan besar di masyarakat, terutama para investor saham. Keadaan ini memperlihatkan para investor yang menjual aset mereka dengan gegabah dan juga para investor dengan berkepala dingin yang mengambil momen ini sebagai peluang untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan di masa depan

Melalui CoLearn Online yang diadakan oleh CoHive berjudul ” Berinvestasi di Waktu yang Tidak Pasti ” terdapat diskusi mendalam dan edukatif tentang investasi saham ditengah pandemic, dengan pembicara Fajrin Syukron, (CEO dan Coach Asia Charts Indonesia) dan moderator Andrea Sudirman (Community and Event Lead of CoHive)

Berbicara mengenai fenomena black swan, Fajrin mengakui bahwa kondisi ini telah menghantam harga saham di Indonesia. Akan tetapi, ia juga meyakinkan bahwa terlepas dari fenomena tersebut, menjadikan saham sebagai intrumen investasi tetap menjadi pilihan terbaik untuk masa depan.

 “Selama pandemi seperti saat ini, apakah bijaksana untuk melakukan investasi?” ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan berinvestasi di pasar modal, meskipun melihat situasi yang sedang kurang bersahabat seperti ini. Menurut Fajrin, berinvestasi dengan saham sama halnya dengan memiliki mesin pencetak uang yang dapat digunakan di masa depan. Berbicara mengenai saham, satu hal yang perlu diketahui dalam berinvestasi di pasar modal adalah, meskipun harga saham jatuh, harga saham dapat pulih dengan harga yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Terdapat banyak sekali keuntungan yang bisa didapatkan dengan berinvestasi melalui saham. Salah satu diantaranya adalah pencapaian target keuangan dengan waktu singkat. Hal ini dicontohkan Fajrin melalui kasus Mutia Hatta, putri Wakil Presiden Indonesia. Pada tahun 1993, Mutia dihadiahi satu lot saham di PT Unilever Indonesia TBK seharga Rp 23.600 dengan nilai Rp 11.800.000. Pada saat itu saham masih berbentuk lembaran kertas, sehingga tidak sengaja terabaikan oleh Mutia. Tumpukan lembar saham tersebut kemudian baru ditemukan kembali pada tahun 2018 dengan nilai yang mengejutkan, yaitu sebesar Rp 3,2 milyar. Kejadian ini memperkuat fakta bahwa saham merupakan pilihan investasi yang terbaik dan merupakan instrument investasi yang dapat dinikmati sendiri, diturunkan kepada anggota keluarga, dan dilikakukan dalam jangka pendek atau panjang.

Materi mengenai investasi saham ini kemudian menarik banyak partisipan untuk bertanya, salah satunya mengenai dampat Covid-19 terhadap industry ritel yang berhasil menurunkan harga saham LPPF atau Matahari Department Store menjadi Rp 1.100, dan segera kembali naik ke harga Rp 1.500 dalam waktu singkat. Fajrin menjawab bahwa ini adalah contoh asli dalam pentingnya memiliki pengetahuan mengenai pasar modal sebelum terjun dalam transaksi jual beli saham. Kondisi ini terletak pada rencana jual beli saham saham, mengetahui saham mana yang pantas untuk dibeli dan angka jual harga saham tersebut. Ketiga komponen ini penting adanya untuk diketahui investor untuk menghindari terjadinya aktivitas judi dalam melakukan transaksi saham.

Selama masa pandemi, melakukan investasi tentu akan terasa lebih berat. Akan tetapi, dengan berinvestasi anda akan memiliki tabungan untuk masa depan, sehingga ketika endemic usai, kondisi finansial tetap dapat dikendalikan. Oleh karena itu, berinvestasi perlu dilakukan dengan ilmu yang cukup dan kesadaraan akan kondisi individu masing-masing, agar investasi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anda. Dikutip dari Fajrin sendiri, berinvestasi harus dilakukan dengan skill dan pengetahuan yang tepat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.