GK-PnP X CoHive: Speed Dating ‘Jembatan’ Bagi Startup untuk berkembang | CoHive Blogs

GK-PnP X CoHive: Speed Dating ‘Jembatan’ Bagi Startup untuk berkembang

CoHive dan GK-Plug and Play Indonesia berkolaborasi membangun platform untuk mendukung perkembangan startup Indonesia melalui flagship event bertajuk “GK-PnP X CoHive Speed Dating” pada 14 Maret 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk ‘menjodohkan’ startup dengan investor atau VCs (Venture Capitals). Sebanyak 40 startup dan 17 Venture Capitals nasional maupun internasional mendaftarkan diri dalam kegiatan ini.

Salah satu startup yang ikut dalam kegiatan ini adalah Tampah (Tabungan Sampah), startup yang membangun aplikasi pengelolaan sampah dan bertujuan untuk mengubah sampah menjadi uang dengan cara menabung di bank sampah terdekat. Sekaligus bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Chief Technology Officer (CTO) Tampah, Ucok Freddy mengatakan perusahaannya membutuhkan suntikan dana untuk bisa lebih berkembang. Ucok tak menampik perusahaan yang ia pimpin membutuhkan dana segar untuk bisa bergerak membangun ekosistem yang diakuinya masih belum maksimal.

“Aplikasi sudah kami buat dan ekosistem juga sudah kami bangun mulai dari bank sampah ke rumah-rumah. Kami mengambil sampah ke rumah-rumah layaknya layanan Gojek khusus sampah. Kami ikut event ini karena mendapat informasi dari WhatsApp grup CoHive. Tujuannya sederhana yaitu untuk mendapatkan pendanaan,” kata Ucok.

Baca:  The Evolution of Coworking Spaces Beyond The Startup Community

Selain mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Venture Capital, Ucok mengatakan kegiatan semacam ini dapat menambah relasi. Acara yang diselenggarakan di CoHive D.Lab Jl Riau No 1, Jakarta itu juga diisi dengan sesi networking sehingga pendiri startup dapat saling berkenalan bahkan dapat melakukan penjajakan untuk menjalin kolaborasi. “Banyak ilmu yang kita dapatkan tentang dunia startup, seperti proses funding itu kayak apa dan segala macam,” tambah Ucok.

Hal ini sesuai dengan visi dari CoHive. Head of Corporate Communications CoHive menyatakan sebagai perusahaan coworking space terbesar di Indonesia dengan jumlah members mencapai 8.000 orang dari 800 perusahaan, CoHive tidak hanya fokus memberikan fasilitas ruang kerja yang nyaman, tetapi juga berbagai kegiatan untuk membangun ekosistem startup. “Satu hal yang menjadi keunggulan dari ekosistem yang kuat adalah ruang untuk berkolaborasi. Hasil riset dari Aspen Institute menyebut bahwa kolaborasi sangat esensial bagi para pengusaha untuk melatih kreativitas dan kemampuan menangkap peluang,” jelas Kartika.

Sementara itu, Marketing & Community Manager GK-Plug and Play Indonesia, Maria Sutanto, menjelaskan kegiatan seperti ini dapat menjadi jembatan bagi startup untuk berkembang melalui pitching hingga bertujuan untuk mendapatkan investasi. Maria menjelaskan kegiatan ini sekaligus menjadi ajang bagi Venture Capitals untuk melihat startup yang potensial. Umumnya, Venture Capitals lebih tertarik pada startup yang memiliki visi jangka panjang, bukan hanya sekadar ide brilian semata.

Baca:

“Di Indonesia sendiri startup ekosistemnya sudah berkembang pesat, banyak sekali dukungan dari pemerintah, akselerator, inkubator yang mulai ada di Indonesia. Namun tetap saja investor itu selektif, selektif itu lebih diliat dari timnya, produknya hingga strateginya lima tahun ke depan dan sebagainya,” jelas Maria.

Venture Capital yang ikut terlibat dalam kegiatan ini salah satunya adalah Alpha Momentum Indonesia (AMI). Perusahaan model ventura ini tak hanya sekadar memberikan investasi ke startup, namun juga menawarkan bimbingan dan mentorship. Chief Executive Office (CEO) AMI, Rachmat Gunawan mengatakan banyak startup yang belum memiliki visi jangka panjang. Padahal, startup idealnya harus memiliki visi tak hanya untuk satu dua tahun ke depan. Maka, Gunawan menjelaskan pihaknya memberikan mentoring kepada para founders startup.

“Visi jangka panjang merupakan salah satu aspek penting bagi startup untuk dapat berkembang. Selain itu sosok founder juga merupakan hal yang vital, yaitu seseorang yang mampu memilih bisnis model yang tepat. Founder harus bisa skill up, bisa ke ‘atas’ dan ke ‘samping’. Hal yang paling penting adalah momentum yang tepat,” jelas Rachmat.

Antusiasme dari peserta startup dan venture capitals begitu tinggi. Karenanya, CoHive dan GK-Plug and Play Indonesia berencana untuk menggelar kegiatan ini secara berkala. Kegiatan speed dating ini dibuka terbatas bagi members CoHive dan GK-Plug and Play Indonesia. Namun startup lain di luar members yang ingin membangun jaringan dengan investor juga turut berpartisipasi dalam acara networking yang diadakan di sela waktu speed dating.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi jawaban bagi startup yang menghadapi berbagai kendala bisnis, seperti akses terhadap pendanaan awal dan juga mentorship. Dengan demikian, ekosistem startup diharapkan bisa bertumbuh subur untuk mendorong perkembangan ekonomi digital di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *