Coworking Space dan Tantangan Bernama Regulasi | CoHive Blogs

Coworking Space dan Tantangan Bernama Regulasi

Regulasi dianggap masih menjadi tantangan besar bagi para pengusaha yang ingin menjalankan bisnis coworking space.

Perubahan gaya kerja remote workers telah merambah di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya jumlah coworking space, yang menurut data yang dilansir dari Katadata.co.id, telah meningkat tiga kali lipat, dari hanya 45 unit pada 2016, menjadi sekitar 200 unit pada Juni 2018.

Peningkatan tersebut berkorelasi terhadap sektor Usaha Kecil dan Menegah (UKM) yang terus bertumbuh. Saat ini, menurut TechinAsia edisi 19 Januari 2018, ada sekitar 60 juta unit UKM di Indonesia. Itu artinya, ada lebih dari 8,9 juta entreprenuer, yang mana 10 persennya membutuhkan coworking space untuk menjalankan bisnis.

Baca juga: Coliving Jadi Tren Baru Setelah Coworking Space Menjamur

Sejatinya, menjalankan bisnis coworking space belum semulus yang dibayangkan karena masih terdapat tantangan. Satu di antaranya adalah regulasi. Sekretaris Jenderal Asosiasi Coworking Space Indonesia, Felencia Hutabarat, mengatakan, perizininan dan pajak coworking space seringkali masih membingungkan karena belum ada nomeklatur yang jelas.

Dari sisi perizinan, coworking space masih digolongkan sebagai kantor virtual. Di DKI Jakarta, misalnya, kantor virtual diatur dalam SE PTSP DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 2016, yang merupakan pengembangan Perda DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2014 tentang zonazi. Peraturan ini dikabarkan sempat membuat kantor-kantor virtual yang terdapat di beberapa wilayah Jakarta awalnya sempat ditutup, meski kembali dibuka pada 2016.

Meski di Jakarta sudah mulai berkembang, ternyata tidak demikian di beberapa daerah. Ini terjadi karena masih minimnya pemahanan pemerintah setempat tentang konsep ruang kerja tersebut. Menurut Felencia, “Jakarta memang sudah lebih mapan secara akses. Kami harap kota-kota kecil lainnya bisa juga merasakan fasilitas yang sama.”

Baca juga: Produktivitas Vs Komunitas dalam Coworking Space

Belum lagi bicara soal tidak adanya nomenklatur, yang membuat para pelaku bisnis coworking space kesulitan membayar pajak. Saat ini, menurut data terakhir, tidak ada aturan jelas soal perhitungan pajak. Belum lagi jika ruang kerja tersebut berafiliasi dengan bisnis restoran yang marak terjadi saat ini.

Private office

Meski masih terbentur regulasi, coworking space nyatanya tetap mampu menjadi bisnis yang menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ruang kerja bersama, yang tidak hanya menawarkan meja kerja bersama, tetapi juga ruang kerja (private office), mulai dari yang berukuran kecil dengan kapasitas 3-5 orang, hingga besar (100 orang).

Sejumlah benefit lebih pun akan diperoleh jika menggunakan fasilitas private office, mulai dari internet access, 24 hours security, hingga car parking. Jenis ruang kerja inilah yang sering digunakan sejumlah pebisnis yang sedang merintis startup hingga para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Join Our Newsletter


Sebenarnya model private office juga bukan hal baru dalam dunia bisnis, yang sering diungkapkan cocok bagi para digital nomads atau freelancer. Di Amerika Serikat, misalnya, sejumlah perusahaan raksasa, mulai dari General Electric, IBM, General Motor, hingga Microsoft menyewa private office.

Karl Kangur, pendiri MRR Media, dalam artikel Entrepreneur.com, menerangkan, coworking space kiranya bakal cocok bagi para pengusaha yang baru memulai bisnisnya. Di sini, nilai budaya coworking yang mengutamakan kolaborasi dianggap mampu meningkatkan kreativitas para pekerjanya. Lalu, setelah bisnis tersebut dan anggota tim mulai berkembang, model private office bisa menjadi pilihan bagi para pemilik usaha.

Baca juga: Coworking Space dan Gairah Kehidupan Kantoran

Menurut Karl Kangur, “Ketika bisnis Anda mulai berkembang pesat, sangat mudah bagi Anda untuk upgrade kantor dan pindah ke tempat kerja baru. Anda juga tidak selalu terbebani dengan sewa jangka panjang dan pemilik coworking space biasanya lebih fleksibel daripada pemilik bangunan kantor tradisional.”

Dari berbagai fakta di atas, memang benar bisnis coworking space masih terkendala masih regulasi di Indonesia. Namun, bukan berarti tidak ada solusi terbaik untuk mengatasi hal tersebut. Seiring terus berkembangnya jaman, ruang kerja bersama itu pun bakal terus mengeliat di tengah berbagai tantangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *