Transformasi Kultur untuk Inklusivitas dalam Bekerja

Transformasi kultur adalah sebuah strategi untuk meningkatkan sinergi dan efektivitas  bekerja suatu organisasi dengan sistem yang baru. Untuk dapat terus bertahan dan tumbuh, sebuah organisasi perlu melakukan perubahan mendasar dalam bertransformasi. Transformasi sendiri merupakan tindakan strategis yang membutuhkan investasi besar dengan resiko yang tinggi. Oleh karena itu, melakukan transformasi kultur untuk membangun inklusivitas dalam organisasi menjadi sangat penting.

Lalu mengapa inklusivitas menjadi sebuah hal yang penting dalam organisasi? inklusvitas adalah sebuah rasa kepemilikan yang dimiliki oleh seorang karyawan terhadap lingkungan kerjanya  yang dapat mendorong mereka untuk menampilkan kinerja terbaik. Itulah mengapa penting untuk suatu organisasi melakukan transformasi kultur agar dapat membangun inklusivitas di dalamnya. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal tersebut, CoHive menghadirkan CoLearn yang berjudul, “New Approach to Inclusive Work Culture and Environment” (Pendekatan Baru untuk Lingkungan dan Budaya Kerja yang Inklusif). Dalam webinar ini turut mengundang, Peter Febian, chief people and communication officer Tukangsayur.co dan dimoderatori oleh Ni Luh Ayu P.S Jiyesthani, senior recruitment and employee relations 

“Culture eats strategy for breakfast,” yang bermakna bahwa sebuah strategi tidak akan dapat berjalan dengan lancar bila tidak didukung oleh kultur di dalamnya. Artinya, peran kultur dalam menggerakan suatu organisasi sangatlah besar. Tidak hanya itu, untuk dapat menggerakan suatu organisasi diperlukan pemimpin yang mampu menjalin komunikasi dan mengobservasi para anggotanya. Peter menambahkan bahwa transformasi kultur bukanlah sebuah misi individual, melainkan visi seluruh lapisan organisasi yang perlu diawali dari jajaran pemimpinnya.

Baca juga: Ragam Jenis Motivasi Dalam Bekerja, Apa Sajakah?

Peran pemimpin dalam melakukan transformasi kultur

Melakukan transformasi kultur memerlukan proses yang panjang, kualitatif, dan berkelanjutan, itu sebabnya tanpa konsistensi, hasil yang dihasilkan akan kurang optimal. Dalam menerapkan sebuah sistem baru pada suatu organisasi tidak bisa dilakukan sebelah mata, tetapi perlu melibatkan semua pemangku tangan dan anggotanya. Peter menegaskan bahwa pemimpin perlu menempatkan rasa empati pada anggota organisasi dan pada ekosistem mereka ketika bekerja. Sebab, transformasi kultur turut melibatkan karakter tiap anggota, perasaan, dan cara berpikir yang kolektif.

Untuk menciptakan kultur yang inklusif, para pemimpin harus mampu membangun hubungan karyawan yang personal, namun tetap transparan. Hal ini ditujukan agar para anggota dapat merasa diterima atas keberagamannya masing-masing. Dalam membangun kultur inklusif, pemimpin dapat memulai dengan membangun komunikasi lintas pekerjaan dengan para anggota melalui sebuah percakapan sederhana. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan melakukan berbagai acara konstruktif yang dilakukan secara berkala.

Politik organisasi untuk merangkul semua kalangan

Tidak ada suatu organisasi yang berdiri tanpa politik di dalamnya dan hal tersebut perlu diperhatikan apabila ingin melakukan sebuah transformasi kultur. Dalam menciptakan rasa kepemilikan atas lingkungan organisasi, peran pemimpin sangat diperlukan oleh para anggotanya, namun, bukan berarti anggota tidak memiliki peran yang sama pentingnya.  Meskipun begitu, politik organisasi tidak hanya didukung oleh para jajaran pemimpin. Faktanya, menurut Peter, politik organisasi tidak hanya diisi oleh jajaran pemimpin tetapi juga oleh kelompok-kelompok kecil di dalamnya. Kelompok ini diisi oleh sekumpulan orang yang biasa berkumpul ketika makan siang, atau pada pagi hari sebelum mulai bekerja. Para anggota kelompok ini cenderung lebih terbuka pada sesama anggota mereka, dan tugas organisasilah untuk mendeteksi kelompok-kelompok ini. Dimulai dari menggerakan kelompok ini, seluruh organisasi dapat kemudian terdorong untuk melakukan perubahan dalam skala yang lebih besar. Peter menambahkan bahwa kultur dalam sebuah organisasi itu sulit untuk diukur atau dikuantifikasi, namun dampak perubahannya nyata bagi efisiensi dalam bekerja.

Manfaat transformasi kultur

Kultur bukanlah semata tentang apa yang kita tanamkan pada organisasi, tetapi tentang apa yang kita toleransi dan pelihara selama ini” tegas Peter. Transformasi kultur penting adanya untuk perkembangan suatu organisasi karena dapat menghadirkan berbagai manfaat, baik secara internal dan eksternal. Suatu organisasi dengan lingkungan inklusi yang baik mampu menggerakan para anggotanya untuk menunjukan kemampuan terbaiknya dalam bekerja. Selain itu, organisasi yang inklusif cenderung terbuka dengan keberagaman cara pandang masing-masing anggota. Rasa keterbukaan yang dimiliki para anggota dalam suatu organisasi dapat mendorong sisi kreativitas mereka dan menghasilkan berbagai inovasi baru. Selain itu, menurut sebuah riset yang dilakukan oleh Harvard Business Review, keterbukaan pada keberagaman cara pandang dapat menghasilkan lebih banyak solusi pada berbagai masalah yang dihadapi. Pasalnya, hal tersebut sangat esensial untuk suatu organisasi karena dapat meningkatkan cara mereka dalam membuat suatu keputusan.

Banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan dengan dilakukannya transformasi kultur pada suatu organisasi. Selain dapat meningkatkan etos kerja para anggotanya, transformasi kultur juga dapat mengikat hubungan intrapersonal orang-orang di dalamnya. Dimulai dari rasa empati para pemimpin, hingga keterlibatan kelompok-kelompok internal yang bersangkutan. Dalam melakukan transformasi kultur, urgensi perlu dirasakan dari dalam organisasi dengan tujuan untuk membangun rasa nyaman para anggota di dalamnya. Lingkungan kerja yang baik adalah tempat dimana para anggotanya merasa diterima dan dihargai atas perbedaan yang mereka miliki, oleh karena itu bila dirasa lingkungan tidak lagi memberikan apa yang dibutuhkan oleh anggota, transformasi kultur perlu untuk dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.