Dampak Pandemi Covid-19 pada Startup di Indonesia

“Indonesia adalah tuan rumah dari pasar UKM terbesar di Asia Tenggara, akan tetapi pandemi covid-19 telah memukul perekonomian Indonesia dengan jatuhnya PDB sebesar 5.32% pada kuartal kedua 2020” sebut Jason Lee, pada sebuah acara webinar yang bertajuk “Indonesia’s Startups Amid Covid-19 Pandemic” (Startup Indonesia di tengah Pandemi Covid-19).

Dalam diskusi daring yang diadakan bersama  Japan External Trade Organization (JETRO) ini dibahas mengenai dampak pandemi covid-19 pada startup dan ekonomi digital di Indonesia. Turut mengundang Jason Lee selaku CEO dan Co-Founder CoHive dan Mulya Amri, Ph.D selaku Research Director Katadata Insight Center. Diskusi ini dimoderatori oleh Wataru Ueno selaku Senior Director JETRO Jakarta.

Indonesia adalah rumah dari pasar UKM terbesar yang  memiliki nilai transaksi e-commerce tertinggi di Asia Tenggara. Hal ini didukung oleh tingginya pengguna smartphone di Indonesia yang menurut hasil riset Katadata dan KOMINFO telah mencapai 338 juta pengguna di seluruh tanah air. Oleh karena itu, perekonomian di Indonesia diduga akan tumbuh sebesar 290% pada 2025, akan tetapi pada kenyataannya pandemi telah menghabisi banyak sekali sektor unggul di Indonesia. Bersama dengan KOMINFO, Katadata melakukan sebuah riset guna memahami dampak pandemi pada ekonomi digital Indonesia dan menganalisa hal-hal yang dapat ditingkatkan untuk terus menjaga perputaran roda ekonomi negara.

Melalui risetnya Mulya menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan mengalami masa yang sulit selama pandemi. Sebelum pandemi, sebanyak 74,8% perusahaan memiliki kondisi perusahaan yang baik, 21,6% berada pada kondisi rata-rata, dan 3,6% berada di kondisi yang buruk. Datangnya pandemi ke tanah air kemudian mengubah kondisi menjadi 33% pada kondisi yang baik, 24,6% di kondisi rata-rata, dan 42,5% di kondisi buruk, artinya terjadi penurunan yang signifikan pada kondisi perusahaan terhadap pandemi covid-19. Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi juga berbuah manis pada beberapa sektor startup, khususnya pada bidang sistem pembayaran, logistik, agrikultur dan kesehatan. Sedangkan sektor yang mengalami pukulan terberat diduduki oleh sektor pariwisata, e-commerce, dan maritime.

Baca juga: Masa Depan Properti Setelah Pandemi

Melihat hal ini, CoHive sebagai coworking space terbesar di Indonesia dengan lokasi yang tersebar di banyak kota-kota besar di Indonesia juga merasakan dampak dari pandemi covid-19. Jason menjelaskan, meningkatnya kebutuhan akan remote working ditunjukkan dengan meningkatnya demand akan private office dan berkurangnya permintaan atas ruang kerja terbuka. Meskipun begitu,  Jason optimis bahwa coworking space tetap akan menjadi pilihan yang baik bagi mereka yang ingin melaksanakan remote working dan meeting virtual, karena CoHive tidak hanya menawarkan opsi coworking space, melainkan juga private office, dan beragam fasilitas kerja jarak jauh, seperti kantor satelit, dan studio meeting virtual dan live streaming. Selain itu, berbeda dengan coworking space yang lain, CoHive menawarkan bentuk sewa yang serupa dengan keanggotaan gym, yang artinya penyewa dapat melakukan sewa dengan deposito yang disesuaikan dengan lamanya kontrak penyewa tersebut.

Untuk dapat melalui pandemi dibutuhkan strategi yang sesuai dengan kondisi dan sektor perusahaan dan startup itu sendiri. Berdasarkan riset yang dilakukan, Mulya menarik garis besar atas hal yang perlu diperhatikan dalam melewati masa tidak pasti seperti ini, yaitu dengan mengurangi biaya operasional, produksi, dan promosi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.