Inilah Tantangan di Dunia Startup Fintech Indonesia

4 Tantangan di Dunia Startup Fintech Indonesia

4 Tantangan di Dunia Startup Fintech Indonesia

Dengan berkembangnya dunia Fintech di Indonesia, membuat semakin panas & semakin banyak pemain yang menciptakan inovasi di Industri satu ini. Namun bukan berarti tidak ada tantangan yang ‘berat’ agar bisa survive di dalam hot industri ini. Setidaknya ada 4 tantangan yang dipaparkan oleh Irwan Sutjipto Tisnabudi – Digital Banking Value Proposition and Product Head of BTPN, Edward Widjonarko – Co-founder cicil.co.id, Adrian A. Gunadi – Co-founder & CEO of Investree dan Agung Bezharie – Co-founder & CEO of Warung Pintar. Apa saja tantangan di dunia Fintech?

4 Tantangan Dunia Startup Fintech di Indonesia

1. Harus Bisa Agile Seperti Startup Fintech

“Kita melihat fintech itu bukan sebuah kompetitor tapi sebagai challenge bahwa mengapa fintech bisa melakukan itu sementara bank tidak bisa melakukan itu”

Dalam mengembangkan produk digital banking, apalagi diinisiasi dari sebuah Bank Konvesional, Bank BTPN, tentu mempunyai challenge tersendiri untuk menciptakan & produk digital banking, JeniusIrwan Sutjipto TisnabudiDigital Banking Value Proposition and Product Head of BTPN, mengatakan “Tantangannya adalah bagaimana kita bank tapi kita bisa bergerak atau agile enough seperti layaknya fintech”.

Ia memberikan sedikit contoh, misalkan dalam fintech startup, membuat sebuah produk atau fitur bisa sangat cepat sekali, bisa hanya dalam hitungan minggu. Berbeda dengan bank konvensional yang bisa jadi mengeluarkan sebuah produk atau fitur baru dalam waktu berbulan – bulan. Ia juga mengatakan “Kalau bisa launching 6 bulan [produk dari konvensional banking], saya tepuk tangan”.

2. Tidak ada Centralized Data

Tantangan di dunia fintech berikutnya menurut Edward Widjonarko, Co-founder cicil.co.id, yaitu tidak ada centralized data yang bisa diakses oleh semua orang. Padahal menurutnya jika sudah terdapat centralized data sangat membantu untuk menentukan validasi data seseorang.

Karena tidak adanya centralized data, platform cicil.co.id saat ini juga turut membangun data khususnya segmen kalangan mahasiswa. Apalagi saat ini dengan kehadiran teknologi, sangat membantu untuk memvalidasi data. Ia menambahkan “[Dengan teknologi mempermudah] dari data collection ke cara pengolahan data”.

(Baca juga: How to Successfully Penetrate Indonesian Market?)

3. Membuat Validasi Data Yang Lebih Efisien

Menurut Adrian A. GunadiCo-founder & CEO of Investree, juga setuju dengan manfaat teknologi dalam hal data integration. Apalagi ia menjelaskan jika saat ini banyak sekali data point – data point yang dapat dimaksimalkan, dari UKM hingga individu.

Apalagi dengan teknologi, dapat membuat data collection & memprosesnya lebih efisien & cepat. “Bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat data collection semakin efisien” tuturnya.

4. Apakah teknologi saat ini sudah siap atau belum?

“The challenge is actually to understand our user”

Tantangan bagi dunia fintech selanjutnya dari sisi yang berbeda disampaikan oleh Agung BezharieCo-founder & CEO of Warung Pintar, ia mengatakan “Sebenarnya yang challenge buat kita itu adalah apakah keadaan teknologinya udah ready atau belum?.”

Agung memberikan contoh seperti apakah 4G di indonesia sudah cepat? Apakah data streaming sudah bisa? Apakah aplikasi yang digunakan dapat diinstall di Smartphone penjaga warung? Ia juga menambahkan jika dengan siapnya teknologi di Indonesia, maka otomatis akan membantu untuk dapat memahami pelanggan lebih baik.

Itu dia 4 tantangan di Dunia Fintech yang dirangkum dari Panel Discussion “Opportunity for Growth: Revolutionizing The Economy Through Digitalization” tanggal 7 Maret 2018 pada peresmian Jenius x EV Hive @ Menara BTPN Coworking Space.

Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian memiliki pandangan tersendiri untuk tantangan terbesar di Dunia Fintech?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *